Bukan Sekadar Sekolah: DIY Bangun Generasi Berkarakter Lewat Pendidikan Khas Kejogjaan

  • Administrator
  • Kamis, 07 Mei 2026 03:37
  • 8 Lihat
  • Sorotan

Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan, sebuah pendekatan pendidikan berbasis budaya yang bertujuan membentuk generasi muda menjadi jalma kang utama — manusia berkarakter luhur, berbudaya, sekaligus siap menghadapi tantangan zaman. Program ini diperkenalkan langsung oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam peluncuran di SMAN 6 Yogyakarta.

 

Menurut Sri Sultan, dalam keterangan resmi yang diterima Jogjalink, peluncuran tersebut menjadi tonggak penting karena Pendidikan Khas Kejogjaan kini tidak lagi sekadar konsep, melainkan telah bergerak menjadi praktik nyata dalam dunia pendidikan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat — mulai dari guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga komunitas sosial — untuk bersama-sama menghidupkan nilai budaya dalam keseharian, bukan hanya di ruang kelas.

 

Di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat, pendidikan dinilai tidak cukup hanya melahirkan individu cerdas secara akademik. Tantangan utama justru bagaimana membentuk manusia yang utuh secara karakter. Sultan menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa fondasi nilai dapat membuat manusia kehilangan arah serta terlepas dari akar budayanya sendiri.

 

Karena itu, Yogyakarta memilih pendekatan berbeda: pendidikan sebagai proses pembudayaan. Pendidikan dipandang sebagai ruang pertemuan antara pengetahuan, pembentukan karakter, 

dan kesadaran hidup. Pendidikan Khas Kejogjaan pun dihadirkan bukan semata program administratif, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang hidup dan berkelanjutan.

 

Gerakan ini berangkat dari falsafah luhur Hamemayu Hayuning Bawana, yakni prinsip menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Melalui nilai tersebut, pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, tanggung jawab lingkungan, serta keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

 

Sri Sultan juga menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Konsep Tri Sentra Pendidikan — keluarga, sekolah, dan masyarakat — menjadi fondasi utama dalam membangun karakter anak. Di Yogyakarta, sinergi tersebut diperkuat melalui kolaborasi khas antara Keraton, Kampus, dan Kampung sebagai ekosistem pembelajaran yang saling melengkapi.

 

Melalui Pendidikan Khas Kejogjaan, Pemda DIY menghadirkan ruang bersama tempat nilai, budaya, dan proses belajar menyatu dalam praktik nyata. Mulai dari geguritan, macapat, tari tradisional, hingga berbagai ekspresi kreatif siswa, pendidikan diharapkan tidak hanya mengasah kecerdasan, tetapi juga membangun penjiwaan. Sejalan dengan pitutur luhur Jawa, ngèlmu iku kalakoné kanthi laku — ilmu sejati hanya bermakna ketika dijalankan dalam kehidupan.

 

Foto: Humas Jogja

Pendidikan

Komentar

0 Komentar