Menyusuri Jejak Pejuang Sandi di Kulon Progo

  • Administrator
  • Jumat, 03 April 2026 05:27
  • 2 Lihat
  • Sorotan

Semangat menjaga kedaulatan negara tidak hanya lahir di medan tempur bersenjata, tetapi juga melalui perang sunyi menjaga rahasia negara. Itulah pesan utama yang dihidupkan kembali oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melalui kegiatan napak tilas menuju Situs Rumah Sandi Dukuh di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 lembaga tersebut.

 

Kegiatan yang dipimpin Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi diawali dengan upacara di Lapangan Dekso sebelum para peserta berjalan menyusuri rute sejarah menuju lokasi persandian. Napak tilas ini melibatkan taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara, unsur pemerintah daerah, komunitas persandian, hingga jurnalis, sebagai bentuk refleksi perjalanan panjang pengamanan informasi negara sejak masa perjuangan kemerdekaan.

 

Menurut Nugroho dalam keterangannya, para perintis persandian Indonesia dahulu menghadapi tantangan fisik yang berat. Mereka berjalan kaki menembus perbukitan, menyeberangi sungai, bahkan memanggul sepeda demi memastikan pesan rahasia negara tetap aman. Pengorbanan tersebut menjadi fondasi nilai dedikasi dan loyalitas yang hingga kini masih relevan di tengah ancaman keamanan modern.

 

Jika dahulu ancaman datang dari penyadapan radio oleh penjajah, kini medan perjuangan berpindah ke ruang digital. Nugroho menegaskan bahwa perang informasi saat ini berlangsung melalui platform siber, spektrum elektromagnetik, serta algoritma teknologi canggih. Meski bentuk ancaman berubah, semangat pengabdian para pejuang sandi tetap menjadi pedoman utama bagi generasi keamanan siber masa kini.

 

Kepala Museum Sandi, Setyo Budi Prabowo, menjelaskan bahwa peran persandian sangat krusial pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948. Saat itu, komunikasi Republik selalu diawasi intelijen Belanda sehingga setiap pesan diplomatik harus diamankan melalui sistem sandi sebelum dipancarkan lewat radio.

 

Situs Rumah Sandi Dukuh menjadi saksi bisu operasi komunikasi rahasia tersebut. Di tempat inilah pesan-pesan strategis disandikan sebelum dikirim ke dunia internasional untuk menjaga legitimasi Indonesia di tengah blokade informasi musuh. Sistem sandi yang dikembangkan tokoh persandian nasional Roebiono Kertopati terbukti mampu menjaga komunikasi diplomatik dengan New Delhi dan Singapura tetap aman tanpa terdeteksi pihak lawan.

 

Para peserta napak tilas turut merasakan langsung beratnya medan perjuangan dengan menelusuri jalur perbukitan Menoreh dan menyeberangi sungai, rute yang dahulu digunakan kurir sandi. Bagi banyak peserta, pengalaman tersebut membuka perspektif baru bahwa keamanan negara tidak hanya dijaga di garis depan militer, tetapi juga oleh para pejuang informasi yang bekerja dalam senyap.

 

Terletak di Dusun Dukuh, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Situs Rumah Sandi masih mempertahankan bangunan limasan tradisional milik warga bernama Merto Setomo. Dinding anyaman bambu, replika alat tulis sandi manual, buku kode rahasia, hingga media penyimpanan pesan menjadi pengingat bahwa dari rumah sederhana di perbukitan inilah komunikasi rahasia Republik pernah menembus dunia internasional.

 

Melalui napak tilas ini, BSSN tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menegaskan kesinambungan perjuangan: dari sandi manual di rumah bambu hingga pertahanan siber berbasis teknologi tinggi. Warisan patriotisme para pejuang sandi menjadi pengingat bahwa menjaga keamanan informasi adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga kemerdekaan bangsa.

 

Foto: Dok. BSSN

Napak tilas

Komentar

0 Komentar