Momen Kirab Mangayubagya, Ribuan Pamong Desa Satukan Doa dan Budaya untuk 80 Tahun Sri Sultan HB X
- Administrator
- Senin, 06 April 2026 10:32
- 12 Lihat
- Sorotan
Suasana kebersamaan dan semangat budaya mewarnai peringatan 80 tahun usia Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui kirab Mangayubagya yang diikuti belasan ribu pamong desa dan unsur Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan budaya tersebut berlangsung meriah dengan rute dari Titik Nol Kilometer menuju Keraton Yogyakarta, menegaskan kuatnya relasi antara kepemimpinan daerah, tradisi keraton, dan masyarakat.
Kirab dimulai sejak pagi hari dengan peserta dari lima kabupaten dan kota di DIY mengenakan busana adat Jawa gaya keraton. Rombongan diawali perwakilan Kota Yogyakarta, disusul Sleman, Bantul, Kulon Progo, hingga Gunungkidul. Sepanjang perjalanan, para peserta berjalan kaki sambil membawa hasil bumi khas wilayah masing-masing sebagai simbol rasa syukur, kemakmuran, sekaligus penghormatan kepada pemimpin yang dianggap mampu mengayomi masyarakat.
Paguyuban lurah DIY yang tergabung dalam Nayantaka Gandang Hardjanata memaknai kirab ini sebagai wujud cinta masyarakat kepada Ngarsa Dalem. Tradisi membawa hasil bumi tidak hanya menjadi ritual simbolik, tetapi juga memiliki nilai sosial karena seluruh hasil bumi yang diterima keraton kemudian diserahkan kembali kepada pemerintah daerah untuk didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Partisipasi besar terlihat dari berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Sleman yang menghadirkan puluhan kelurahan dengan beragam komoditas pertanian seperti umbi-umbian, padi, buah, hingga sayuran. Sementara itu, rombongan dari Gunungkidul mengirim ribuan peserta yang telah berangkat sejak subuh, melibatkan aparatur pemerintah, BUMD, hingga Abdi Dalem Kaprajan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang kepemimpinan Sultan.
Selain menjadi perayaan budaya, kirab Mangayubagya juga membawa dampak ekonomi kerakyatan. Pada akhir acara, panitia menghadirkan angkringan gratis yang melibatkan pelaku UMKM dari seluruh DIY. Ratusan porsi makanan tradisional dibagikan kepada masyarakat menggunakan sistem kupon, menghadirkan nuansa gotong royong khas Yogyakarta. Momentum ini sekaligus menunjukkan bahwa tradisi keraton tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang penguatan solidaritas sosial dan penggerak ekonomi masyarakat.
Foto: Dok. Humas Jogja